Wajahnya terkulai lemah kelelahan
tampak nelangsa terlalu banyak tekanan
tak peduli bagaimana kejamnya perlakuan dunia
namun tak sedikitpun keluh kesah terlontar dari bibirnya
Mengais sampah dibawah teriknya panas matahari
keringatnya mengalir deras membasahi dahi
langkahnya berat dan tertatih-tatih
pikirannya jauh melayang demi sesuap nasi
Rona kebahagiaan jauh dari angannya
masa depan yang lebih baik seakan harapan yang sia-sia
derita dan duka tak pernah lepas mengikutinya
hanya kepada Sang Khalik tempatnya berpasrah
Jeritan hati si pengais sampah
bukan rumah gedongan pintanya
cukup makan saja pun tak mengapa
akankah terlalu sulit untuk mewujudkannya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar